Blog

83886516_2958935867479550_5494754737801764036_n

Kisah Angga Fauzan yang telah mengalami lika-liku membuat ia memang sekuat baja. Kegigihannya dalam menggapai cita-cita telah ia buktikan sampai saat ini. Mulai dari keseriusannya dalam menuntut ilmu sampai S2, dicibir tetangga karena terus saja sekolah “kayak anak kecil”, sampai pernah menahan lapar karena tidak punya uang.

Belum tentu semua orang setangguh kisah Angga Fauzan. Bisa jadi, ketika kita lahir dalam kondisi sangat sulit seperti itu, kita justru mengikuti saja kehidupan. Tidak ada cita-cita dan sebagainya, karena putus asa. Berbeda dengan laki-laki lulusan The University of Edinburgh ini. Ia telah menaklukkan dunia bahwa cita-cita mampu diraih dengan kesungguhan yang luar biasa.

Angga sempat menjadikan cerita ini dalam sebuah utas di twitter.

Baca Juga: Angga Fauzan Tak Lelah Menulis Meski Sering Ditolak

Di sini, Angga membuktikan bahwa dirinya yang hidup di tengah keluarga yang sulit mampu menembus batas. Jangan salah, usaha untuk mencapai segala impiannya ini tidak ada yang mudah lho.

Korban Penggusuran

Sebelumnya, Angga dan keluarga tinggal di Ciracas, Jakarta Timur. Bapaknya Angga jualan ayam goreng dengan menetap di daerah Jalan Baru. Setelah sebelumnya jual jagung rebus, kacang, es buah, keliling pakai gerobak sampai kawasan TMII dan sekitarnya, lapak jualannya digusur. Karena menjadi korban penggusuran tanpa kompensasi jelas, Angga pindah ke kampung halaman bapaknya di Boyolali. Padahal di Jakarta Angga sudah cukup nyaman dengan fasilitas dan teman-teman yang baik.

Tinggal di Kandang Kambing

Di Boyolali, Angga dan keluarganya tinggal di bekas kandang kambing milik kakek (ayah dari bapak). Kandang tersebut terletak di pinggir kebun bambu yg kemudian direhab seadanya. Jadilah rumah tripleks alas tanah dan semen yang mana kalau hujan pasti bocor dimana-mana. Kalau ada angin, daun-daun bambu masuk semua.

Korban Bully

Angga mengalami masa terberat saat duduk di bangku SD. Sedari kelas 4 semester 1 sampai kelas 6, Angga dibully ramai-ramai oleh teman sekelas. Mulai dari dilempar sepatu, dikata-katain, kalau main pasti dikalahin, ditendang pakai bola, disuruh jaga pintu kelas tiap jam kosong berjam-jam biar mereka bisa main di dalam kelas, dipalak, dan lain-lain. Akhirnya, Angga sering pulang sekolah langsung nangis, salahsatunya pas diajak (a.k.a dipaksa) bolos pas jam kosong. Teman-temannya merokok plus joget-joget gak jelas di rumah salah satu dari kami. Tentu Angga dipaksa juga tapi ia menolak. Lapor guru pun mana berani.

Sempat Dilarang Masuk SMP

Orang tua Angga awalnya tidak mengizinkan untuk masuk ke SMP 2 Boyolali dengan alasan tidak punya yang. Pasalnya, perjalanan PP ke Boyolali kota itu Rp 3000, naik bis total bisa 2-3 jam. Butuh berminggu-minggu sampai akhirnya Bapak mau nyari utangan biar anaknya sekolah di situ.

Hampir Masuk Panti Asuhan

Sampai akhirnya ada semacam kumpul beberapa anggota keluarga besar buat bantu memecahkan masalah ke mana Angga akan melanjutkan hidup. Pasalnya, sudah tidak ada lagi pinjaman uang untuk Angga bersekolah SMA.

Pernah ada opsi untuk nitipin aku di panti asuhan di kota Boyolali biar hemat ongkos, tp ibuku menolak. aku nggak yatim piatu, dia ga terima anaknya disitu.

Duh, keren ya Angga bisa melalui lika-liku itu semua. Jujur, salut sih sama Angga! Makanya, selengkapnya bakal ada di buku karya Angga Fauzan, -8°C .

BACA JUGA : Beasiswa ke Luar Negeri dan Bagaimana Tips & Triknya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *